SIBERKLIK.COM - Mungkin tak terbayangkan sebelumnya oleh Dedy Wahyudi. Sang Walikota Bengkulu yang akrab disapa Dewa ini dibuat menagis haru saat pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Mukomuko, Rabu (2/4). Daerah yang dikenal dengan julukan Kapuang Sakti Ratau Batuah.
Dewa pulang ke kampung halamannya di Kelurahan Pasar Mukomuko. Ia pulang tak sendirian. Turut serta juga istri dan anaknya.
Bak seorang raja, kedatangan Dewa bersama keluarga kecil bahagianya disambut secara adat. Tarian Sakora dan sekapur sirih menyambut kedatangan mereka. Selain itu juga ada payung kuning pusaka dan pemasangan deta. Sebuah kopiah kehormatan dalam adat Mukomuko.
Penyambutan yang begitu sakral inilah yang membuat Dewa menangis terharu. Ia tak menyangka penyambutannya sedemikian rupa. Bahkan sang istri, Dian Fitriani Wahyudi juga tak kuasa menahan air matanya yang merasa haru atas sambutan itu.
Kedatangan Dewa bersama keluarganya bukanlah bentuk kegagahan seorang anak yang sukses di perantauan. Menurutnya banyak putra dan putri asal Kabupaten Mukomuko yang sukses di Provinsi Bengkulu bahkan di tingkat nasional.
"Saat ini banyak warga asli Mukomuko yang sukses di berbagai bidang. Ini tentu menjadi kebanggan bagi kita semua," seru Dedy.
Pulang ke kampung halaman, Dewa sejatinya hanya ingin berziarah ke makam kedua orang tuanya. Disamping untuk mempererat lagi tali silaturahmi dengan keluarga besar dan sahabat.
Namun sambutan yang luar biasa dari warga Mukomuko atas kepulangannya membuat Dewa merasa sangat tersanjung. Tak henti ia selalu mengucapkan terimakasih yang mendalam atas sambutan yang diberikan.
Selaian acara penyambutan adat ada juga do'a syukuran yang dilakukan. Acara mendo'a ini dihelat di rumah orang tua Dedy Wahyudi di Pasar Belakang.
Menurut Ketua BMA Kabupaten Mukomuko, Bismarifni BI, SH acara mendo'a ini sebagai wujud syukur untuk keselamatan dan keberhasilan Dedy Wahyudi sebagai Walikota Bengkulu.
Warga Mukomuko sangat dikenal sebagai warga yang taat dalam memegang teguh adat istiadatnya. Termasuk warga yang berada di perantauan.
Hal ini jugalah yang dilakukan Dewa. Ia dikenal sebagai sosok yang santun dan bepagang teguh pada adat istiadat setempat. Sesuai dengan pepatah; "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung".
Seolah telah menjadi satu tarikan nafas, Dewa pun selalu berusaha untuk menjadi sosok pemimpin yang peduli terhadap rakyatnya. Hal ini sesuai dengan arti dan makna dari julukan asal kampung halamannya yakni Kapung Sakti Rajau Batuah.
Kapuang Sakti Ratau Batuah sendiri berasal dari bahasa Minang Kabau. Jika diartikan maka makna yang terkandung pada istilah tersebut yakni; sebuah kerajaan atau kesultanan dimana pemimpinnya memiliki kepedulian dan perhatian yang kuat dan besar kepada rakyatnya.
Apa yang dilakukan Dewa setelah pelantikannya bukanlah sekedar omon-omon. Ia bergerak sat-set untuk melayani warganya agar menjadi lebih baik lagi.
Bahkan seorang ustad pernah merasa kagum dengan apa yang dilakukan Dewa yang rajin mendatangi warganya saat tabligh musibah. Entah itu pada hari pertama, kedua maupun ketiga kendati sudah menjadi Walikota.
Seperti yang disampaikan Dewa kepada media ini. Bahwa ada seorang ustad yang mengisi acara tausiah tabligh musibah yang secara spontan membicarakan kebiasaan dirinya yang kerap hadir pada acara tabligh musibah. Bahkan hingga larut malam.
"Pak Walikota ini luar biasa sekali. Ia selalu hadir diacara tabligh musibah. Jikalah hal ini ia lakukan untuk pecitraan Pilwakot, beliau sudah terpilih dan bahkan telah dilantik sebagai Walikota Bengkulu. Jikalah ini untuk Pilwakot mendatang, maka hal itu terlalu dini dilakukan. Jadi hal yang pas dikatakan ini adalah sebuah kebiasaan baik yang dilakukan seorang yang peduli kepada rakyatnya dengan tulus ikhlas," kata Dewa menirukan apa yang dikatakan ustad Wirahadi saat tausiahnya.
Jujur Dewa mengaku kaget dengan apa yang dikatakan ustad tersebut. Namun ia juga bersyukur kepada Allah SWT dan memohon agar kebiasaan baik kepada warganya selalu terjaga untuk dilakukan. (AK)