APPSI Dorong Penataan Ulang Pasar Panorama, Pedagang Ingin Pasar Hidup Bukan Sekadar Dipindahkan

APPSI Dorong Penataan Ulang Pasar Panorama,


BENGKULU – Penataan Pasar Panorama kembali menjadi perhatian setelah muncul dorongan dari para pedagang dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Provinsi Bengkulu agar konsep relokasi dan pembenahan pasar dilakukan lebih menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.

Ditengah upaya pemerintah mendorong pedagang masuk ke dalam pasar, muncul satu persoalan mendasar yang selama ini dirasakan para pelaku pasar, yakni belum tersedianya area berdagang yang dianggap benar-benar representatif bagi pedagang maupun pembeli. Persoalan itu terutama terlihat di kawasan pasar percontohan atau los basah yang berada dibagian tengah Pasar Panorama.

Area yang dibangun sekitar tahun 2010 tersebut sejatinya memiliki kapasitas besar dengan ratusan los yang tersedia. Namun dalam perjalanannya, sebagian besar justru tidak terisi. Dari sekitar 204 los yang ada, hanya sebagian kecil yang masih digunakan pedagang. Selebihnya tampak kosong dan belum mampu menjadi pusat aktivitas perdagangan seperti yang diharapkan.

Ketua Bidang Hukum DPW APPSI Provinsi Bengkulu, Jecky Haryanto, menilai kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan pasar tidak bisa hanya dilihat dari keberadaan bangunan fisik semata. Menurutnya, bangunan yang ada perlu dievaluasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan aktivitas perdagangan masyarakat.

“Kalau ini dirubah, diperbesar untuk los-los pedagang, jadi mereka lebih nyaman dan kemudian area ini bisa lebih terfungsikan,” ujar Jecky saat meninjau langsung lokasi bersama para pedagang.

Usulan yang berkembang di lapangan mengarah pada penataan ulang area los keramik dengan konsep lebih terbuka tanpa sekat-sekat kecil seperti saat ini. Para pedagang menginginkan ukuran lapak diperbesar dan akses antar lorong dibuat lebih lega agar aktivitas jual beli lebih nyaman.

Koordinator jaga pasar sekaligus pedagang, Syamsu Rizal, mengungkapkan bahwa para pedagang sebenarnya pernah direlokasi ke area tersebut. Namun setelah beberapa hari mencoba berdagang, kondisi pasar dinilai tidak mampu mendatangkan pembeli secara maksimal.

“Setelah mereka coba sekitar tiga sampai empat hari, satu pun barang mereka tidak ada yang beli. Akhirnya mereka bingung karena harus tetap mencari nafkah,” katanya.

Menurut Syamsu, ukuran los yang terlalu kecil dan posisi yang berhimpitan menjadi salah satu alasan pedagang sulit bertahan di dalam area pasar. Ia menilai perlu ada keberanian untuk melakukan penataan ulang secara menyeluruh agar pasar benar-benar hidup dan diminati.

Karena itu, muncul wacana agar area los keramik dibongkar lalu ditata ulang menggunakan sistem lantai terbuka dengan pembagian ruang yang lebih fleksibel. Pedagang mengusulkan ukuran lapak berkisar dua hingga dua setengah meter agar cukup untuk aktivitas perdagangan sehari-hari.

Selain untuk pasar siang, konsep tersebut juga dikaitkan dengan rencana “Pasar 56”, yakni pasar malam yang dirancang beroperasi mulai pukul 17.00 WIB hingga 06.00 WIB. Setelah aktivitas malam selesai, pedagang diharapkan dapat kembali berjualan di area pasar percontohan pada siang hari sehingga kawasan pasar tetap hidup sepanjang hari.

Sekretaris DPW APPSI Bengkulu, Marwandi, memandang usulan tersebut sebagai bentuk pemikiran yang lahir langsung dari pelaku pasar. Menurutnya, penataan pasar seharusnya tidak berhenti pada pemindahan pedagang, tetapi juga memastikan ruang ekonomi yang dibangun benar-benar bisa digunakan untuk bertahan hidup.

“Bangunannya sudah berdiri, konsepnya yang belum pas,” ujar Marwandi.

Ia menilai selama ini pasar terlalu sering dipahami sebatas proyek fisik, padahal inti persoalannya terletak pada bagaimana menghadirkan ruang yang nyaman bagi pedagang dan menarik bagi pembeli. Karena itu, APPSI mendorong agar pemerintah kota, pengelola pasar, dan pedagang duduk bersama membangun konsep yang lebih realistis dan sesuai kebutuhan lapangan.

Bagi para pedagang, pasar bukan sekadar tempat berjualan, tetapi ruang hidup yang menopang ekonomi keluarga sehari-hari. Karena itu, penataan yang berhasil bukan hanya soal membuat pedagang masuk ke dalam bangunan, melainkan bagaimana pasar kembali memiliki denyut, aktivitas, dan kehidupan yang benar-benar dirasakan bersama. (Cik)